• Penyuluhan Ekowisata, Langkah Awal Menggali Potensi Wisata Mandangin




    Mandangin, The hidden paradise yang belum terjamah. Itulah ungkapan kecil tentang Mandangin. Pulau ini sangat indah. Memiliki pantai dengan pasir putih, bukit batu ditengah laut bernama Candin, makanan khas yang mungkin berbeda dengan yang ada di daerah lain, ada cakocak, agel-agel, kar cakar, lopes, dan lain-lain yang tak mungkin disebutkan satu per satu. Mandangin juga memiliki situs sejarah diantaranya makam Bansacara dan Ragapatmi. Mandangin juga memiliki keunikan yaitu disini mudah sekali kita bertemu dengan kambing. Sistem waktunya berbeda dengan daerah lain, warga Mandangin menggunakan sistem istiwa’ dalam sistem waktunya yang berbeda 30 menit dari WIB (Waktu Indonesia Barat), ada buah bukol juga di Mandangin. Mandangin juga punya batik khas Mandangin yang ada motif kabing-kambingnya. Unik bukan? Masih banyak lagi yang dimiliki mandangin yang jika disebutkan satu per satu cerita tentang Mandangin tak akan pernah usai. Jika penasaran sempatkan waktu untuk traveller ke Mandangin dan cari tahu sendiri tentang keelokan pulau ini.

    Untaian kata di atas telah sedikit mengungkap potensi wisata yang dimiliki pulau Mandangin. Sebagai langkah awal untuk mendukung Mandangin sebagai daerah wisata seperti yang direncanakan Pemerintah Kabupaten Sampang maka dilakukan penyuluhan ekowisata. Kegiatan ini sangat perlu dilakukan karena potensi besar yang dimiliki Mandangin ini belum dimaksimalkan oleh masyarakat Mandangin.

    Sabtu, 22 Juli 2017, diadakan penyuluhan Ekowisata yang dihadiri oleh ibu Mardiyah Hayati, SP. MP, dosen Pertanian Universitas Trunojoyo Madura. Melalui penyuluhan ekowisata, masyarakat Mandangin mulai diajarkan bagaimana membangun dan menata tempat tinggal mereka menjadi destinasi wisata. Akan tetapi tujuan tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak lapisan masyarakat yang belum bisa menerima konsep destinasi wisata tersebut dengan berbagai argument salah satunya sosial budaya asli masyarakat Mandangin akan terkikis sedikit demi sedikit akibat budaya luar yang dibawa ke Mandangin oleh wisatawan yang berkunjung ke Mandangin dengan berbagai latar budaya. Kalau budaya yang dibawa baik mungkin akan diterima tetapi apabila tidak maka akan benar-benar merusak budaya Mandangin karena akulturasi yang terjadi.

    Mindset masyarakat, adalah hal yang pertama harus di dekati kemudian diberi pemahaman tentang bagaimana menciptakan rasa cinta dan peduli lingkungan. Segala bentuk upaya dilakukan agar visi cinta lingkungan dapat menyerap pada masyarakat, mulai dari penyuluhan, pendidikan bahkan pesantren. Pelan tapi pasti, harapannya masyarakat bisa menerapakan semua apa diperoleh dari kegitan peduli lingkungan tersebut. Sehingga potensi yang ada di Pulau Mandangin dapat tereksplore oleh masyarakat luas salah satunya potensi wisata.

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar