• Psikoedukasi sebagai Upaya Merubah Mindset Masyarakat Mandangin untuk Peduli Lingkungan



    Mandangin pulau elok namun sayang harus berhadapan dengan masalah sampah. Sampah menjadi salah satu masalah yang sulit untuk ditangani di pulau Mandangin. Mengingat jumlah penduduk mandangin yang sangat banyak hampir 20.000 penduduk, kondisi pemukiman yang sangat padat, kambing penduduk yang bebas berkeliaran dan minimnya pemanfaatan tempat pembuangan sampah. Hal ini menjadikan produksi sampah tiap harinya menjadi sangat besar. Kita bisa membayangkan jika ada 20.000 penduduk dan semuanya mengahasilkan sampah, sudah berapa ton sampah yang terkumpul ?
    Kendala besar yang dihadapi pulau Mandangin sendiri adalah kurangnya pemanfaatan  tempat pembuangan akhir sampah karena kurangnya kesadaran penduduk  akan kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah yang kurang terintegrasi. Sehingga bukan sepenuhnya salah masyarakat Mandangin jika mereka membuang sampah ke laut sebagai jalan keluar pembuangan sampah karena tempat pembuangan sampah yang minim disebabkan padatnya pemukiman penduduk.Sehingga mereka sudah terdoktrin dari masyarakat terdahulu yang membuang sampah ke laut.
    Namun, jika mindset masyarakat Mandangin ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin jika dalam 10-15 tahun kedepan laut Mandangin yang indah akan menjadi gudang sampah. Oleh karena itu, untuk memutus mata rantai pemikiran apatis dan kurangnya pengetahuan mengenai pengelolaan sampah, maka perlu suatu terobosan baru untuk menyadarkan masyarakat Mandangin agar peduli terhadap lingkungan terutama masalah sampah.
    Berkaitan dengan upaya mengubah mindset masyarakat mandangin maka salah satu upaya yang dilakukan adalah Psikoedukasi. Menurut Mottaghipour dan Bickerton, Psikoedukasi merupakan suatu tindakan yang diberikan kepada individu dan keluarga untuk memperkuat strategi koping atau suatu cara khusus dalam menangani kesulitan perubahan mental. Psikoedukasi adalah sebuah tindakan modalitas yang disampaikan oleh professional, yang mengintegrasikan dan mensinergikan antara psikoterapi dan intervensi edukasi (Lukens & McFarlane). Psikoedukasi perlu sekali dilaksanakan dalam upaya merubah mindset masyarakat Mandangin agar mereka lebih sadar akan kebersihan lingkungan.
    Pada tanggal 22 Juli 2017 bertempat di Pondok Pesantren Miftahul Ulum dilaksanakan Sosialisasi tentang Psikoedukasi dimana dalam acara ini langsung dihadiri oleh pemateri yaitu Bapak Yudho Buwono, S.Psi., M.Si., dosen Psikologi Universitas Trunojoyo Madura. Bapak Yudho sangat semangat memberikan materi tentang Psikoedukasi masalah menjaga kebersihan lingkungan karena melihat antusiasme peserta yang cukup besar. Peserta yang hadir dalam kegiatan Psikoedukasi ini adalah dari masyarakat umum, siswa RA, MI, dan Mts yang jumlahnya sekitar 90 orang. Sengaja anak RA dan MI diikutsertakan karena kegiatan ini menginginkan agar anak-anak Mandangin sadar kebersihan lingkungan sejak dini. Mengingat merekalah masa depan Mandangin yang perlu ditata mindsetnya untuk diarahkan ke arah mindset yang lebih positif dalam memandang masalah sampah.

    Pada acara Psikoedukasi ini tidak hanya pada materi dan diskusi, karena ada anak-anak yang terlibat juga, sehingga juga memasukkan unsur aksi peduli lingkungan  yang berkaitan dengan sampah seperti diakhir sesi penyampaian materi anak-anak diajak mengumpulkan sampah dan siapa yang mampu mengumpulkan sampah terbanyak dialah yang menjadi pemenang dan mendapatkan hadiah berupa permen.
    Tak lupa Bapak Yudho Buwono menyatakan bahwa sebenarnya Universitas Trunojoyo Madura telah memberikan bantuan berupa alat pengolah sampah sejak 2 tahun lalu untuk masyarakat Mandangin, namun alat tersebut belum termanfaatkan dengan baik. Untuk itu Bapak Yudho memberikan materi mengenai pengelolaan sampah tepat guna karena dari pertanyaan salah satu peserta, mereka mengatakan bahwa mereka belum bisa mengoperasikan mesin-mesin modern. Untuk itu agar semua bisa berjalan sesuai harapan maka diperlukan integrasi antara pemerintah desa, masyarakat dan perlu juga melibatkan instansi pendidikan sebagai akademisi yang dapat menularkan pengetahuannya untuk sama-sama mengangani masalah sampah.

    Mindset merupakan akar dari segala tindakan yang dilakukan, jadi untuk merubah tindakan negatif menjadi tindakan positif maka diperlukan penataan mindset secara tepat.
  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar